Batu bata merah telah lama digunakan sebagai material dalam pembangunan rumah dan berbagai bangunan lainnya. Namun di balik proses produksinya, terdapat satu tahapan yang perlu mendapat perhatian, yaitu pembakaran. Proses ini membutuhkan energi dalam jumlah tertentu dan dapat menghasilkan emisi karbon yang memengaruhi kualitas udara, terutama di sekitar lokasi produksi.
Lantas, bagaimana proses pembakaran batu bata dapat memengaruhi lingkungan? Dan adakah alternatif material dinding yang diproduksi tanpa melalui proses tersebut?
Mari simak di artikel ini.
Proses Pembakaran Menghasilkan Emisi karbon ke Udara
Dalam produksi batu bata merah konvensional, bata yang telah dicetak dan dikeringkan perlu dibakar pada suhu tinggi agar memperoleh karakteristik yang dibutuhkan. Proses pembakaran umumnya menggunakan kayu sebagai bahan bakar.
Ketika bahan bakar dibakar, terjadi reaksi kimia yang menghasilkan gas dan partikel. Jenis serta jumlah emisi yang dilepaskan bergantung pada bahan bakar, teknologi tungku, suhu pembakaran, dan bagaimana efisiensi prosesnya.
Beberapa polutan yang dapat dihasilkan antara lain karbon dioksida (CO₂), karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO₂), nitrogen oksida (NOx), dan partikulat atau partikel halus yang melayang di udara.
Partikel Halus Dapat Menurunkan Kualitas Udara
Salah satu polutan yang perlu diperhatikan adalah particulate matter (PM), yaitu partikel padat atau cair berukuran kecil yang berada di udara. PM2.5 merupakan partikel dengan diameter aerodinamis 2,5 mikrometer atau lebih kecil, sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru.
Jika emisi dari tungku pembakaran dilepaskan secara terus-menerus, konsentrasi partikel di sekitar lokasi produksi dapat meningkat. Kondisi ini dapat diperburuk oleh cerobong yang kurang memadai, kebocoran asap, serta lokasi produksi yang dekat dengan permukiman.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research pada 2024 menemukan bahwa tungku batu bata tradisional, secara rata-rata, menghasilkan emisi PM dan CO lebih tinggi dibandingkan sejumlah teknologi tungku yang lebih baik. Penelitian tersebut juga melaporkan bahwa pekerja di industri pembakaran batu bata cenderung mengalami gangguan pernapasan lebih banyak dibandingkan kelompok yang tidak terpapar, meskipun kualitas bukti dalam studi-studi yang ditinjau memiliki keterbatasan.
Dampaknya Tidak Hanya bagi Lingkungan, tetapi Juga Kesehatan
Paparan polusi udara dari proses pembakaran dapat menjadi perhatian bagi pekerja maupun masyarakat yang tinggal di sekitar tempat produksi. Partikel halus dapat mengiritasi saluran pernapasan, sedangkan gas seperti karbon monoksida dapat mengganggu kemampuan darah membawa oksigen jika terhirup dalam konsentrasi berbahaya. Paparan polutan tertentu secara berulang juga berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan.
Besarnya dampak tidak selalu sama di setiap lokasi. Faktor seperti konsentrasi polutan, durasi paparan, jarak dari sumber emisi, kondisi cuaca, dan pengendalian pencemaran turut menentukan tingkat risiko yang dihadapi masyarakat.
Alternatif Material Dinding Tanpa Proses Pembakaran
Mengurangi dampak lingkungan dari pembangunan tidak hanya dapat dilakukan melalui pengendalian emisi pada tungku. Pemilihan material yang menggunakan proses produksi berbeda juga dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.
Bata Hitam Premium Reclea Brick® hadir sebagai alternatif material dinding modern yang diproduksi tanpa melalui proses pembakaran bata seperti pada produksi batu bata merah konvensional. Proses produksinya memanfaatkan teknologi tinggi dari negara maju, serta menggunakan FABA (Fly Ash dan Bottom Ash) sebagai bagian dari bahan bakunya.
Dengan tidak menggunakan tahap pembakaran bata pada proses produksinya, Reclea Brick® tidak menghasilkan emisi karbon berlebih seperti batu bata merah. Hal ini menjadi salah satu aspek yang membedakan proses produksinya dari metode konvensional.
Selain produksinya yang lebih ramah lingkungan, Bata Hitam Premium Reclea Brick® memiliki ukuran 21 × 10 × 5 cm yang dirancang lebih besar dan presisi untuk mendukung pekerjaan pasangan dinding lebih cepat selesai. Produk ini juga telah memperoleh sertifikat Green Label selama lima tahun berturut-turut, sebagai bukti terkait aspek lingkungan produk.
Melalui alternatif seperti Bata Hitam Premium Reclea Brick®, masyarakat dapat mempertimbangkan material dinding yang lebih baik sekaligus mendukung upaya menuju pembangunan yang lebih memperhatikan lingkungan.
Ingin bangun rumah lebih ramah lingkungan, lebih hemat, lebih kuat, lebih kokoh, dan lebih sejuk ?
Konsultasikan kebutuhan material Anda bersama tim kami — dapatkan rekomendasi terbaik untuk proyek Anda secara gratis.
📲 @bataramahlingkungan.id