Pernah nggak kamu lihat tembok rumah yang mulai muncul garis-garis halus atau bahkan retakan besar yang bikin dinding terlihat menyeramkan?. Dinding pun tidak lagi terlihat bagus dan jadi mengkhawatirkan.
Nah, itu bukanlah hal langka. Retak di tembok adalah masalah yang sering banget muncul, baik di rumah baru maupun bangunan lama. Ada beberapa hal yang jadi penyebabnya.
Di artikel ini, kita akan bahas kenapa sih tembok bisa retak?
Penyusutan Plesteran atau Beton
Pertama, retak bisa terjadi karena penyusutan plesteran ataupun beton. Saat campuran semen dan pasir mengering, air di dalamnya menguap. Proses ini menyebabkan penyusutan volume, dan kalau tidak diatur dengan baik oleh tukangnya, misalnya campurannya terlalu banyak semen atau plesteran terlalu tebal, hasilnya tembok bisa mengalami retak halus setelah kering.
Stabilitas Struktur Bangunan
Kedua, pergerakan struktur bangunan. Ini biasanya terjadi ketika pondasi belum stabil atau tanah di bawah bangunan mengalami penurunan (settlement). Akibatnya, dinding ikut bergerak sedikit dan muncullah retakan, terutama di sudut atau sambungan dinding.
Suhu dan Cuaca
Ketiga, karena suhu dan cuaca. Tembok yang terkena panas matahari terik seharian akan memuai, lalu menyusut lagi saat malam hari. Proses ekspansi dan kontraksi ini bisa membuat plesteran kehilangan daya rekat dan akhirnya retak, terutama kalau bahan campurannya kurang tepat.
Kualitas Material & Kinerja Tukang
Keempat, kualitas bahan dan cara kerja tukang. Banyak tukang yang masih mencampur semen dan pasir tanpa takaran jelas. Kadang terlalu banyak semen, kadang pasirnya kotor atau mengandung lumpur. Padahal, campuran seperti ini bikin dinding keras tapi rapuh, mudah retak bahkan tanpa beban berat.
Proses Finishing
Terakhir, proses plesteran dan finishing juga berpengaruh besar. Plester yang diaplikasikan langsung terlalu tebal sering kali retak karena bagian luar lebih cepat kering daripada bagian dalam. Idealnya, plester dilakukan dua tahap: lapisan dasar tipis dulu, baru lapisan perata setelahnya.